Posted by : Unknown Selasa, 17 Desember 2013

Kepribadian Guru, Inspirasi Tingkah Laku Siswa
Oleh :  Ida Ayu Rsi Yogandari

Indonesia merupakan negara berkembang yang tentunya tidak terlepas dari dunia pendidikan. Kualitas pendidikan di suatu negara pada dasarnya dapat mengangkat harkat martabat negara tersebut di mata dunia. Suatu negara dianggap mampu atau tidak, dapat dipandang dari kualitas pendidikan di negara tersebut, apakah sudah baik, cukup baik, atau buruk. Misalnya saja negara kita yaitu negara Indonesia yang mana kualitas pendidikan masih dianggap kurang yang menjadikan banyak beredarnya isu-isu bahwa negara Indonesia merupakan negara yang menduduki peringkat terbawah dari negara-negara
di dunia dilihat dari segi pendidikan. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa sangat perlu dilakukan peningkatan dalam bidang pendidikan tersebut. Namun, ternyata pemerintah sudah mulai tanggap terhadap permasalahan pendidikan yang dialami oleh negeri ini. Salah satu tindakan nyata dalam hal peningkatan di bidang pendidikan yang sudah dijalankan pemerintah yaitu kualifikasi guru  minimal S-1. Hal ini dilakukan semata-mata bertujuan agar guru-guru di Indonesia memiliki kemampuan yang sama dalam hal mengajar sehingga sumber daya manusia yang dihasilkan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya tidak jauh berbeda.
Kualitas sumber daya manusia yang baik cenderung didapat dari kemampuan pendidik yang baik pula. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa guru memiliki tugas yang sangat penting sekaligus berat yakni dalam hal mengembangkan pengetahuan siswa yang akan digunakan sebagai bekal masa depannya kelak. Baik atau buruk kualitas pendidikan tidak terlepas dari peran guru di dalamnya. Guru memegang peranan penting dalam hal ini karena gurulah yang “berkuasa”  memberikan pengetahuan yang tepat untuk  siswanya. Memang tidak semua guru ikut terlibat langsung dalam pembuatan kurikulum, namun dalam prakteknya gurulah yang mempunyai kuasa baik dari segi menentukan model, pendekatan, strategi, metode, maupun teknik pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Penerapan baik model, pendekatan, strategi, metode, maupun teknik pembelajaran tersebut nantinya juga berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan. Meskipun seorang guru diketahui merupakan tamatan S-2, namun apabila dalam prakteknya (poses belajar mengajar) guru tersebut tidak mampu menyesuaikan antara strategi pembelajaran misalya, dengan kondisi siswanya maka sama saja guru tersebut dianggap kurang mampu dalam melakukan pembelajaran dengan baik. Seorang guru dapat dikatakan sebagai pemberi informasi (dalam hal ini pengetahuan) yang baik kepada siswanya apabila guru tersebut mampu menerapkan suatu cara belajar yang sesuai dengan keadaan siswa. Guru yang baik adalah guru yang mampu memahami bagaimana perbedaan karakteristik antara siswa yang satu dengan yang lainnya dan mampu memberikan pengajaran yang sesuai dengan kondisi tersebut.
Guru memiliki peran yang penting dalam dunia pendidikan. Guru tidak sekedar dituntut memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya serta mampu mengembangkan potensi diri anak, namun juga dituntut untuk memiliki akhlak yang baik serta memberi ketauladanan kepada siswa. Jadi dalam hal ini tidak hanya profesionalisme guru dalam mengajar seperti yang telah dipaparkan di atas saja yang perlu diperhatikan, namun kepribadian guru hendaknya juga menjadi sorotan yang penting dan perlu diperhatikan. Akhlak siswa yang baik cenderung dihasilkan dari kepribadian orang-orang yang sering ditemuinya. Di sekolah, yang menduduki posisi tersebut adalah guru sebagai pihak yang bertatap muka secara langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran dan sebagai pembimbing siswa itu sendiri. Kepribadian seorang guru dapat tercermin dari bagaimana ia bertingkah laku ketika sedang berinteraksi. Hal tersebut penting diperhatikan mengingat adanya semboyan lama yang berbunyi “Guru patut digugu dan ditiru” yang dari dulu sampai sekarang memang diamalkan dan dijalankan oleh para siswa. “Guru selalu benar”, mungkin hal tersebut yang sudah tertanam di benak siswa sejak pertama kali siswa mengikuti pembelajaran formal di sekolah. Siswa mungkin saja beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh guru adalah hal yang benar, sehingga apapun yang dilakukan guru juga dianggap benar oleh siswa. Jika memang demikian, sepertinya guru maupun orangtua siswa akan memiliki ketakutan tersendiri terhadap penerapan semboyan “Guru patut digugu dan ditiru” tersebut. Mengapa demikian? Pertanyaan tersebut mungkin bisa dijawab dengan pepatah “Tak ada gading yang tak retak”, tak ada manusia yang sempurna termasuk guru di dalamnya.
Setiap hubungan (interaksi) guru-siswa tidak hanya mempunyai potensi mengubah siswa menjadi lebih baik, tetapi juga berpotensi merusak siswa. Jadi, guru harus fokus untuk membangun interaksi yang berpotensi mengubah siswa menjadi lebih baik dan meminimalkan interaksi yang merusak (Yonny dan Yunus, 2011: 12). Dari pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa interaksi antara guru dan siswa akan sangat berpengaruh terhadap kelakuan siswa nantinya. Siswa cenderung mengikuti perilaku guru, tidak hanya yang baik, perilaku yang kurang baikpun terkadang ditiru oleh siswa. Misalnya jika seorang guru biasa membuang sampah sembarangan, maka siswa akan cenderung mengikuti perilaku guru tersebut. Contoh kecil lainnya yaitu cara guru berpakaian. Tidak sedikit guru khususnya kaum perempuan yang mengenakan rok di atas lutut, dan dampaknya adalah siswa mengikuti hal tersebut. Jika sudah seperti ini, pantaskah siswa disalahkan atas kelakuan tersebut? Jika hal kecil seperti etika membuang sampah serta berpakaian tersebut saja bisa diikuti oleh siswa, maka akan timbul ketakutan mengenai hal negatif lainnya yang dilakukan oleh guru yang nanti juga akan dicontoh oleh siswa seperti yang terdapat dalam berita yang sering disiarkan di televisi mengenai kekerasan guru terhadap anak didiknya baik itu pencabulan maupun kekerasan fisik yang belakangan ini marak terjadi di beberapa sekolah. Entah apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi, apakah karena guru yang kurang sabar membina peserta didiknya, ataukah memang peserta didik yang memang tidak bisa dinasehati oleh guru. Perbuatan itu tidak sepatutnya dilakukan oleh guru. Lebih fatal lagi bila perbuatan yang tergolong tindakan kriminal itu dilakukan terhadap terhadap anak didik sendiri.
Guru adalah inspirasi siswa. Bukan faktor kesengajaan, melainkan kebiasaanlah yang membuat siswa mau tidak mau berperilaku mengikuti kepribadian guru. Tidak hanya dari segi cara berpakaian seperti yang telah dijelaskan di atas, gaya bicara, tingkah laku, kesopanan, sikap terhadap lingkungan yang ditunjukkan oleh siswa juga tidak jarang ditiru oleh siswa. Siswa menjadikan kepribadian guru sebagai inspirasinya karena gurulah sosok yang dilihat sebagai orang tua mereka di sekolah. Jika guru memiliki kepribadian yang baik dan tingkah laku yang baik pula, tidak menutup kemungkinan apabila siswa bertingkahlaku serupa.
Dari uraian tersebut, guru hendaknya dapat mengkaji mana perilaku yang sesuai diterapkan di lingkungan sekolah dan mana yang tidak sesuai. Guru hendaknya lebih memerhatikan tingkah laku pada saat berinteraksi dengan siswa dan seluruh pihak sekolah karena apapun yang dilakukan guru cenderung akan diikuti oleh siswa. Seorang guru memang seharusnya menjadi tauladan bagi siswa, dalam hal ini yang dimaksud adalah  tauladan yang baik. Percuma rasanya guru memberikan banyak ceramah mengenai bagaimana menjadi anak yang baik apabila guru itu sendiri berperilaku yang kurang baik bahkan buruk sekalipun. Maka dari itu, selain pengetahuan, kepribadian guru juga merupakan modal utama yang penting dalam menghasilkan sumber daya alam yang berkualitas dilihat dari segi akhlaknya.
Menjadi guru ternyata tak sekedar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi pelajaran sesuai jadwal mengajarnya, dan melakukan evaluasi hasil belajar. Namun menjadi guru haruslah memiliki akhlak yang mulia dan luhur yang patut memberikan contoh dan ditauladani oleh siswanya. Guru yang baik adalah guru yang mampu mendidik peserta didiknya dengan baik, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun sikap.

Daftar Pustaka
  
 Akhmad Sudrajat. 2011. Kompetensi Kepribadian Guru. Tersedia pada: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/10/22/kompetensi-kepribadian -guru/. Diakses pada tanggal 6 Desember 2013.

  Anonim. 2012. Pendidikan Berkarakter Dimulai Dari Kepribadian GuruTersedia pada: http://www.sumbaronline.com/berita-17349-pendidikan-berkarakter-dimulai-dari-kepribadian-guru.htmlDiakses pada tanggal 6 Desember 2013.

   Anonim. 2012. Pembentukan Karakter Siswa Cerminan Sikap Dan Perilaku GuruTersedia pada: http://www.bimakini.com/index.php/pendidikan /item/2854-pembentukan-karakter-siswa-cerminan-sikap-dan-perilaku-guruDiakses pada tanggal 7 Desember 2013.

   Yonny, Acep dan Sri Rahayu Yunus. 2011. Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & Disenangi Siswa. Yogyakrta: Pustaka Widyatama.




happy reading, people :)

{ 3 komentar... read them below or Comment }

- Copyright © 2013 Dayu Rsi - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -